Nama Gerai : Fore Coffee
Lokasi : Fore Coffee Pesanggrahan, Jakarta
Harga : Rp.20.000 (Latte dan Fore Pandan Latte - Promo)
Nilai : 1,5 / 5
Recommended : No
Come again : No
Aku memesan Fore Coffee lewat ojek online karena tertarik dengan promosi pembelian dua kopi dengan harga ekonomis meski sejujurnya kurang menyukai acara minum kopi yang tergolong mahal. Untukku wisata kuliner lebih worth it daripada kopi yang bisa diracik sendiri di rumah dengan harga yang jauh lebih murah. Mungkin karena bukan penikmat kopi kali ya, jadi kurang paham filosofinya.
Singkat cerita, pesananku datang dengan sempurna dalam kondisi masih dingin. Aku memang pesan Iced Latte alih-alih secangkir Latte panas. Sedangkan untuk pilihan rasanya, sebenarnya tidak ada preferensi, karena ini murni hanya sekedar mencoba saja.
Lalu bagaimana review Fore Coffee setelah kedua kopi andalannya dicicipi?
Fore Pandan Latte yang di website-nya merupakan menu yang direkomendasikan memiliki warna sedikit hijau. Rasa pandannya memang ada tapi sangat samar, lebih mirip kopi dengan krimer, meski manisnya pas.
Namun saat beralih pada Iced Latte, ternyata terasa cenderung pahit. Aku kurang bisa menikmatinya meski sudah berusaha sehingga akhirnya harus ditambah gula. Setelah pahitnya bisa dinetralisir, barulah kusadari bahwa yang satu ini mirip dengan Fore Pandan Latte meski minus wangi pandannya.
Entahlah, mungkin yang penikmat kopi bisa lebih menyelami rasa-rasa kopi yang berbeda di Fore Coffee, tapi aku sendiri kurang bisa memahami cita rasa yang seperti ini. Kalau dari segi tempat sih, dari yang kulihat di mall-mall, memang konsep yang ditawarkan menarik, berupa gerai bernuansa putih dan terkesan futuristik. Sepertinya asyik ngobrol di tempat yang kekinian seperti itu, tapi bagiku rasa tetap jadi faktor utama dalam menentukan lokasi ngumpul. Mungkin suatu saat aku akan menemukan minuman favoritku di Fore Coffee tapi sepertinya untuk sementara inilah review Fore Coffee dariku 🙂
Fore Pandan Latte yang di website-nya merupakan menu yang direkomendasikan memiliki warna sedikit hijau. Rasa pandannya memang ada tapi sangat samar, lebih mirip kopi dengan krimer, meski manisnya pas.
Namun saat beralih pada Iced Latte, ternyata terasa cenderung pahit. Aku kurang bisa menikmatinya meski sudah berusaha sehingga akhirnya harus ditambah gula. Setelah pahitnya bisa dinetralisir, barulah kusadari bahwa yang satu ini mirip dengan Fore Pandan Latte meski minus wangi pandannya.
Entahlah, mungkin yang penikmat kopi bisa lebih menyelami rasa-rasa kopi yang berbeda di Fore Coffee, tapi aku sendiri kurang bisa memahami cita rasa yang seperti ini. Kalau dari segi tempat sih, dari yang kulihat di mall-mall, memang konsep yang ditawarkan menarik, berupa gerai bernuansa putih dan terkesan futuristik. Sepertinya asyik ngobrol di tempat yang kekinian seperti itu, tapi bagiku rasa tetap jadi faktor utama dalam menentukan lokasi ngumpul. Mungkin suatu saat aku akan menemukan minuman favoritku di Fore Coffee tapi sepertinya untuk sementara inilah review Fore Coffee dariku 🙂

0 Komentar